Nama Padukuhan Teguhan berasal dari nama Mbah Teguh sebagai orang yang jadi cikal bakal di tempat itu. Muhammad Kusnan mendapat cerita tentang Mbah Teguh dari penuturan orang-orang tua dulu. Diawali dari Mbah Teguh, maka tempat itu berkembang. Semakin banyak orang yang ikut bermukim di situ. Mbah Teguh sebagai orang yang pertama kali tinggal, dituakan oleh orang-orang yang datang kemudian, dan untuk nama padukuhan.

Kalau melihat dari keluarga Mbah Teguh yang masih ada di Surakarta kemudian menyusul, pertanda Teguhan berkembang menjadi daerah yang makmur. Mbah Teguh dan keluarganya, tetap tinggal di Teguhan sampai meninggal dan dimakamkan di situ.
Makam Mbah Teguh menjadi satu dengan makam umum sekarang ini. Tidak menonjol, sama dengan yang lain, tidak istimewa, meskipun sudah diberi lantai semen. Letaknya di sudut barat laut, ada empat makam, diduga yang tiga itu keluarganya. Makam Mbah Teguh paling barat, mepet dengan tembok pagar makam, dan dekat dengan pintu butulan makam.
Sayangnya, selain makam, Mbah Teguh tidak mempunyai peninggalan atau pun petilasan yang bisa digunakan melacak lebih jauh tentang dirinya. Muhammad Kusnan tidak tahu di mana dulu rumah Mbah Teguh dan seperti apa ujudnya. Para pendahulu Muhammad Kusnan juga tidak bisa memberikan keterangan, sehingga sampai sekarang tidak bisa diketahui persis di sebelah mana dulu Mbah Teguh tinggal.